Tampilkan postingan dengan label Secuil Kisah. Tampilkan semua postingan

Kisah Tentang Sahabat

Rabu, 11 Agustus 2010

Masih duduk termenung memandangi sebuah gambar yang sengaja aku simpan di sebuah data traveler 8 Gb. Dari sebuah penyimpanan yang aku kasih nama ‘Tak Biasa’ itu aku sering kali masih merasakan ketidak percayaan akan kejadian yang terjadi padamu.  Aku masih merasakan senyumanmu, begitu ceria. Terlihat jelas di gambar ada empat orang yang memakai jaket kuning putih dan seorang lagi memakai pakaian hijau rapi. Benar sekali, foto itu adalah foto waktu kita sedang melakukan Kuliah Kerja Lapangan.
Di sebuah desa yang penuh dengan debu bertebangan, namun berlimpahan dengan air di sungai-sungainya. Di selaang pandang yang ada hanya jalan berbatu terjal dengan hamparan pepadian yang menghiasi kanan kirinya.
“Ini kapan selesainya sih?” keluh Ari, dia salah satu teman aku.
“Bentar lagi!” sahut kamu.
Di desa Pengkol itu kita telah mengukir nama kita, juga nama kampus kita. Setelah berlama-lama kita duduk di balai desa, kita menuju tempat pak lurah. Pergi menuju tempat persinggahan. Memang berat sebagai seorang Kormades, setelah tadi memberikan sambutan yang bla.. bla.. bla…. Sok pintar dan sok intelek, kini aku harus membuat konsep dan merancang jadwal.
Akhirnya ditentukan kita membagi dua tim. Aku bersama Rinda dan kamu bersama Ari. Beberapa hari kita lalui dengan mulus, meski pendekatan ke warga cukup sulit karena mereka sudah sering dibosankan dengan kegiatan-kegiatan seperti ini. Mereka lebih suka dengan kegiatan yang lebih nyata. Menurut mereka menggali sumur, membangun jalan akan lebih bermanfaat ketimbang belajar membaca pada usianya yang bisa dibilang tidak mudah lagi.
“Mbak dan Mas Guru, ini mau belajar kapan? Kami gak punya waktu, kami harus pergi ke sawah.!” Tanya seorang warga.
“Gimana kalu malam saja Pak, Bu?” aku berikan penawaran ke warga.
“Ya dah, gak papa mas! Tapi ada makanannya kan?”
“Ooo…, tentu pak. Sekarang kami akan membuat jadwal untuk lima dusun. Jadi, mohon pamit dulu. Selamat siang, assalamu alaikum!”
“Walaikum salam!”
Hari demi hari terlewati. Kita berempat mengajar dengan tim yang telah kita bentuk.  Satu tim mendapat dua dusun sedang dusun yang terakhir kita sama-sama. Sampai saat ini keadaan baik-baik saja, sampai suatu ketika aku bermasalah dengan Rina. Dia telah mengeluarkan kata-kata yang sangat menyinggungku. Ketidak harmonisan terjadi.
“Aku tidak terima Rin, kata-katamu itu terlalu pedas untuk aku telan!”
“Yang mana? Yang mana?” sahut Rina.
“Sudah.., sudah…, jangan berantem lagi!” kamu berusaha melerai kami.
Akhirnya Rina memutuskan untuk pindah tim, dia memilih untuk bersama Ari.  Dan kamu terpaksa harus satu tim berpasangan denganku. Tapi aku tahu kamu orang yang bijak. Sampai di tempat makan pun kita jadi sering terdiam dan suasana menjadi sangat kaku. Yang awalnya kita selalu bercanda kini hanya diam, kaku menghadap makanan. Hanya sesekali suara sendok garpu yang bertubrukan dengan piring. Juga suara tegukan air ketika masuk ke tenggorokan.
Kita sebagai satu tim, termasuk tim yang sering berjalan-jalan dan refreshing karena kita mempunyai banyak waktu. Kita beruntung memiliki warga belajar yang bisa diajak kerja sama. Ada beberapa teman kita yang kesulitan untuk mengondidikan warga, karena memang warganya yang tidak mendukung. Bahkan ada yang sampai luranya kewalahan. Kebersamaan-kebersamaan yang kita lewati membuat kita menjadi dekat. Banyak tim yang lain iri, karena merasa tim kita dalah tim yang paling kompak. Wlau sebenarnya tim kita juga tidak luput dari masalah.
“Teman-teman, besuk ada acara kumpul-kumpul d Jipang. Kita ikut g?”
“Oke, oke !” jaab Ari.
“Aku manut saja!” jawab cewek-cewek.
Kita berempat memang tim yang kompak. Kita selalu bersama. Namun di luar saat-saat bersama itu, aku dan Ari juga lebih sering keluar. Mengunjungi posko-posko teman di desa lain.
Merasa iri dengan kami, kalian sebagai cewek-cewek juga ingin seperti kami. Hingga saat itu kamu dan Rina pergi ke kota. Dari siang aku dan Ari menunggu kabar dari kalian. Detik-demi detik, menit berlalu, jam pun berlari mengejar irama detak detik. Aku dan Ari masih risau menunggu kepulangan kalian berdua. Pencat pencet tombol remot TV tanpa tau apa yang sedang kami tonton karena kegelisahan. Hingga akhirnya lewat jam sepuluh malam terdengar suara motor masuk gerbang. Seketika Ari marah-marah, kesetanan, tak ada kendali.
“Kalian itu dari mana sih? Malam segini baru pulang.” Tanya Ari.
“Dari belanja ke kota, buat kebutuhan!” jawab cewek-cewek.
“Belanja? Belanja dari Hongkong jam segini baru pulang. Kamu tau gak? Kami ini yang dirumah sangat khawatir dengan keadaan kaliyan?”
“Tapi kami gak apa-apa kan?” kamu menyela.
“Ehh….., dibilangin malah ngeyel! Sebenarnya bukan hanya itu, itu masalah kecil. Kalian, mau pergi, mau minggat, jalan-jalan seharian, bahkan jungkir balik terserah kalian! Tapi kalian harus tau etika disini. Di sini di desa, bukan kos-kosan yang di kampus kamu yang seenaknya keluar-masuk. Apalagi in sudah malam, malam minggu lagi. Kalau warga tau bisa-bisa kita dibilangin yang enggak-enggak sama mereka. Dan itu berarti kita telah menghancurkan martabat kita, juga almamater kita.”
“Ya dah, maaf. Tapi kami nggak ngapa-ngapain kok. Bener!”
“Nggak cukup, dasar kalian cewek-cewek ……   !”
Seketika itu kamu menangis oleh perkataan Ari yang dilontarkannya tanpa kesadaran yang penuh itu.
Kembali terjadi tragedi di tim kita. Kamu dan Ari yang sekarang tidak akur. Tidak pernah berkomunikasi. Dan kembali terjadi diam tak bergerak di meja dapur. Aku berusaha untuk menasehati Ari agar tak terlalu keras sama kamu. Meski perjuangan berat tetap harus dicoba. Kata maaf yang akhirnya menyatukan kita. Rasa mengalah, rasa kekeluargaan yang sudah terlanjur terbangun mengalahkan semua ego dan emosi.
Setelah empat puluh lima hari, akhirnya kita menyelesaikan perantauan kita, tugas berjalan dengan baik. Sebagai rasa terima kasihku pada kalian, saat itu aku ajak kalian untuk menikmati nikmatnya bakso Sedadi. Bakso yang besar membuat perut menjadi penuh. Kita tertawa, kita becanda, kita bahagia.
Tak terasa sekarang sudah terasa panas pantat ini yang membangunkan lamunanku dari sepercik kisah masa lalu. Kembali aku lihat foto yang ada di monitor. Sesekali aku tersenyum namun aku juga ingin menangis. Sudah dua tahun kita melewati hari hari itu. Menski begitu beberapa kali kamu mengajakku untuk berkunjung ke desa kenangan itu. Dua kali lebaran kita sudah berkunjung kesana. Dua tim kita, Ari dan Rina sudah cukup sulit untuk direngkuh. Mungkin karena kesibukannya dengan skripsinya.
Dari kita berempat kamu yang lulus lebih dulu. Kabar terakhir yang aku dengar dari kamu, kamu sudah diterima sebagai Calon Pegawai. Saat itu setelah kita berkunjung ke tempat pak Kadus kamu mengajakku mampir sejenak. Sebagai rasa syukur kamu mentraktirku makan.  Dan ternyata itulah saat terakhir aku melihatmu. Setelah beberapa minggu tanpa kabar aku iseng telpun-telpun ke teman-teman. Sampai giliran kamu yang aku telpon. Kamu sedang sakit.
“Hai, gimana kabarnya” tanyaku.
“Kurang baik..!” jawab kamu.
“Kenapa!”
“Mendadak aku sakit. Aku sudah empat puluh hari dirawat du rumah sakit Kudus. Empat puluh hari juga aku dirawat di Rumah sakit Semarang. Sekarang aku sedang rawat jalan. Dadaku sering sesak, kata dokter sih paru paru basah tapi setelah dicek ke dokter gak ada apa-apa. Dan kakiku juga tidak bisa untuk jalan, sakit sekali jika dibuat berdiri, apalagi jalan. Kata dokter di persendian-persendiakn kakiku ada cairan apa gitu, tapi ternyata hasil tes laborat tidak begitu,”
“Lho kok aneh, gak wajar itu. Jangan-jangan kamu dibuna-guna lagi?” tanyaku sambil iseng.
“Nggak tau, minta doanya saja!”
Aku merasa sedih, ikut merasakan sakit ketika melihat kamu,  seorang temanku mengalami sakit. Bahkan sampai tidak bisa berjalan, pasti perasaan kamu sangat kacau. Kamu sudah lulus, bahkan kamu sudah diterima jadi Calon Pegawai. Sedang aku bahkan belum lulus. Aku kira kamu pasti orang yang paling beruntung. Diluar dugaanku ternyata ada sakit yang menempel pada dirimu, yang aku kira itu sangat tidak wajar. Beberapa minggu kemudian kamu memberi kabar bahwa kamu sudah mendingan. Bisa berjalan meski dengan alat bantu. Aku turut senang.
Selang berapa bulan, ketika aku sedang menghadiri acara resepsi pernikahan temanku di Temanggung seorang temanku yang juga teman satu kelasmu mendapat kabar dari kamu. Kabar terakhir. Ternyata kamu sudah tiada. Seketika itu aku tersentak, tapi aku masih tidak percaya.
“Yon, Ratih…! Ratih…, temen kamu KKN sudah tidak ada. Sudah meninggal!”
“Ratih? Nggak mungkin ah, kemarin dia baru saja telpun aku kok. Dia malah mendingan keadaannya sekarang!”
“Bener, Ratih sudah nggak ada! Ratih yang anak kudus itu kan yang satu ma posko sama kamu. Yang satu kelas sama aku juga, sama Ni’am? Dia sudah benar-benar nggak ada !”
“Innalilahi waina ilaihi rojiun…, ya Allah Ratiiihh…….!”
Meski kalimat itu sudah terucap aku masih tetap tidak percaya sampai aku melihat sendiri.
Acara resepsi begitu lama. Tengah hari baru selesai.  Aku dan teman-teman rombongan segera meluncur ke semarang.  Namun langit yang sudah gelap keburu menumpahkan airnya. Hujan yang begitu lebat mengiringi perjalananku pulang ke semarang. Air mengguyur jalan, air mengguyur tubuhku, membasah sampai teralir kedalam kulitku.
Sesampai di Semarang, aku, Koko, Niam, Isned, Pak ketu dan pacarnya melanjutkan perjalanan ke Kudus, ke kotamu. Sial sekali ternyata sampai perjalananku ke kudus, hujan tak jua reda. Terlihat keramaian di jalan raya Demak kerumunan orang-orang. Beberapa orang mengangkat seseorang yang tergeletak di jalan, bersimpah darah yang begitu kental. Beberapa orang yang lain menyingkirkan motor yang tergeletak di tengah jalan. Aku jadi teringat sama kau. Aku ingin mendengar kepastian tentang kamu, karena au masih belum percaya. Aku masih tak percaya.
Setelah beberapa lama rombonganku sudah sampai di rumah kamu. Tak terasa sudah jam setengah delapan malam. Setelah menyelesaikan sholat isya, aku segera menyusul teman-teman masuk ke dalam rumah kamu. Ternyata benar, di rumah itu aku melihat motor amu yang berwarna merah. Aku hafal, karena aku pernah memboncengkan kamu dengan motor itu. Sampai di dalam aku juga melihat ukiran nama kamu yang terpajang di tempok, tertulis jelas Ratih K. Seketika aku merasa ingin menangis, namun masih tertahan di kelopak mataku. Aku tidak ingin terlhat sedih, aku tidak ingin membuat keluarga kamu tambah sedih.
“Kemarin aku masih melihat dia becanda sama adiknya. Dia sepertinya baik-baik saja. Dia begitu ceria, bahagia. Tak kusangka itu adalah senyuman terakhirnya.” Kata ayah kamu.
“Yang sabar ya pak! Aku juga masih belum percaya, au sering bepergian sama dia. Bahkan ketika di Pengkol aku juga yang sering memboncengkannya. Aku masih merasakan itu seperti baru kemarin!”
Ternyata semangkuk mie yang kau berikan waktu itu adalah pemberian terakhirmu, tanda perpisahanmu. Kita, tim yang dibangga-banggakan sama teman-teman. Tim yang selalu kompak, selalu bersama sekarang kehilangan satu mutiaranya. Aku ingin sekali mencetak dan memperbesar foto tim kita. Agar bisa kuingat-ingat tentang arti sebuah sahabat. Tentang rasa yang mengajarkan kebersamaan, kekeluargaan. Sekarang kenangan itu benar-benar tinggal kenangan.
Tulisan ini adalah sebuah pesan yang belum sempat aku ucapkan untuk mengantar kepergianmu. Aku, Rina, dan Ari merasa sangat kehilangan akan kepergianmu. Sekarang tidak ada lagi yang menghalangi kamu untuk meraih mimpimu, meraih surgamu di sisi-Nya. Dengarkanlah kata-kataku, aku yakin kamu di sini, bersamaku menulis alunan suara ini. Dengarlah bahwa kamu telah memberikan banyak arti bagi tim kami. Yang takkan habis meski dikikis setiap hari.
Pergilah sahabat, tenanglah dirimu. Raihlah mimpimu, raihlah surgamu. Kebaikanmu akan terus mengalir.

SORE ITU DI RUMAHMU

Sabtu, 07 Agustus 2010

Jam 3 sore. Selesai sholat ashar aku kembali kerumahku setelah sejenak aku menghadap ke pangeranku. Mentari sore yang silau mulai memaksaku untuk segera beranjak. Beberapa orang sambil lalu lirik melewat gang depan rumahmu yang sempit. Sementara motorku yang terparkir sudah cukup memenuhi jalan setapak itu. Sedikit angin yang masuk, berhembus melalui celah-celah menerpa ramputmu yang hitam lebat terurai. Membuat aku semakin berat untuk meninggalkanmu. Di lain sisi aku tidak bisa memungkiri bahwa ini adalah akan menjadi perpisahan kita. Air matamu yang sebening embun itu membuat hatiku basah, memenuhi seluruh tubuhku hingga meluap melewat kedua mataku.

“Jangan pergi…!” ucapmu.
“Tak perlu kau ucapkan itu, aku tidak akan kemana-mana. Aku akan selalu di sini, di hatimu. Seharusnya aku yang berkapa seperti itu. Tolong, jangan pergi!” Sahutku.
“Ini diluar keinginanku, ini diluar kemampuanku!”
“Aku mengerti. Sudah Takdir. Sekarang aku hanya bisa mengingat-ingat semua hal tentang kamu. Wajahmu, senyummu, cintamu…., juga namamu. Aku takkan melupakan itu.”
Baju hitam yang kau pakai sekarang setengah basah karena air matamu yang tak kunjung berhenti mengalirkan air mata. Aku masih terasa hari hari kemarin yang begitu hangat. Keramahan hatimu membuatku luluh tak bertulang. Memang semua salahku, aku selalu datang disaat yang tidak tepat. Di kala kamu sedang menempuh ujian, di kala kamu dituntut harus konsentrasi belajar, sempat-sempatnya aku mengganggu ketenanganmu hanya untuk mengetahui bagaimana keadaanmu saat ini. Tak heran kakak perempuanmu marah-marah. Dia bilang begini-begitu bagaimanalah yang memuaskan dirinya.
“Maaf, Ani sedang EBTANAS. So, jangan diganggu…!”
“Oh.., iya kak.Makasih, selamat malam!”
Tutt…tutt..tuttt….., Telepon itu langsung ditutup tanpa basa-basi. Aku hanya terbengong di teras sambil memandangi dirimu di atas langit. Tersenyum, manis, memberikan warna. Ingin ku membelai rambutmu dan merasakan halusnya rambutmu. Namun, wajahmu hanya hologram dari imajinasiku.
Seketika itu tanganmu mengagetkanku, membuyarkan lamunanku dan mengingatkan bahwa kita akan berpisah. Sekian lama aku termenung hingga terbangun lagi tak menyurutkan air yang terlus mengalir di wajahmu. Suara kereta yang melintas dari kejauhan seakan ikut menjerit, tidak menginginkan kamu untuk pergi.
“An, jangan pergi!” ucapku.
“Aku ingin di sini, bersamamu!” sahur dia.
“Makanya, kamu harus tetap di sini.”
“Tidak bisa, ini bukan tempaku. Di sini aku hanya menumpang. Duniaku bukan di sini. Aku harus kembali ke kehidupanku yang dahulu. Jauh dari kamu, jauh dari kesenangan yang aku dapat ketika bersamamu. Kembali ke kehidupanku yang terkekang, kembali ke kehidupanku yang selalu diatur ketat. Aku ingin di sini, bersamamu.”
Suasana seketika hening. Suasana yang berlalu lalang pun yang awalnya samar jadi terdengar begitu meraung-raung. Kota Solo saat itu mulai menjadi ramai. Semakin teduh langit, semakin banyak orang yang berlalu-lalang untuk mencari kesenangan. Seperginya suara-suara itu hanya tinggal suara angin dari timur yang bertiup ke barat dan berbelok ke utara memasuki rumahmu.
“Minggu depan aku akan ke Bandung. Aku akan melanjutkan studi. Kakak-kakakku, orang tuaku, semua di sana. Aku juga harus kesana. Apakah kamu mau meneruskan semua ini?”
“Sungguh tiada gadis lain lagi dihatimu. Hatiku hanya ada kamu, namamulah yang selalu aku panggil ketika aku tertidur dan bermimpi. Aku di sini dan aku akan bertahan.”
“Kamu boleh kok kalau ingin mencari cewek lain. Asal jangan sampai tahu aku saja.”
Aku berpikir. Apakah yang Ani ucapkan itu serius. Sedang yang aku tahu dia orangnya tidak seperti itu. Bahkan ketika itu dia marah besar sekali. Saat di mana aku iseng mengajak kenalan adik kelasku. Khilafku sms itu masuk ke nomornya dia. Jelas seketika itu dia langsung marah besar tidak tertolong. Ngambek beberapa hari membuatku kebingungan. Sudah aku jelaskan sedemikian rupa, dengan cara apapun yang aku bisa.
“Aku enggak bisa!”
“Nggak apa-apa kok.”
“Apa akamu ingin aku seperti itu?”
Dia terdiam. Mengisyaratkan bahwa dia dia tidak menginginkan itu. Sesuatu yang sudah lama terbangun, mati begitu sajan. Siapa juga orang yang menginginkannya.
Pundakku terasa dingin membasah hingga didadaku. Air matanya begitu deras. Menangis didekapanku membuatku semakin berat untuk pergi. Sementara Anto, temanku dan Esti, sepupu Ani sudah kembali dari jalan-jalan. Sengaja aku minta Anto untuk mengajak Sepupu Ani pergi agar aku bisa lebih leluasa berbicara dengan Ani.
“Lho kok makai nangis segala? Ada apa ini” tanya Esti.
“Nggak ada apa-apa kok!” jawab Ani.
“Sepertinya aku mengerti apa yang terjadi!” tambahnya. “Ya sudah, jangan menangis,aku mengerti apa yang kamu rasakan.”
“Gak bisa kak!”
“Iya, gak perlu nangis lagi. Yang sabar!” tambah Anto.
“Sulit…” jawab Ani.
“Kamu ini dari dulu emang cengeng!”
Dentangan empat kali dari jam dinding klasik memotong pembicaraan, memberitahukan bahwa sudah terlalu lama aku menunda kepergianku. Mentari sudah mulai di ufuk barat. Aku harus segera mengejarnya. Aku tidak ingin dia pergi dulu sebelum aku sampai. Aku berpamitan hendak pulang. Namun, Anis masih saja memegang tanganku, tidak mengijinkan aku untuk pergi. Seketika itu kakan pertamanya datang. Memang seumur-umur aku sama dia belum pernah bertemu dengan kedua kakaknya. Yang aku lihat ternyata kakaknya tida seperti yang aku bayangkan. Ani putih dan manis, sementara kakaknya hitam tanpa membawa manis adiknya.
“Hei, ada apa ini? Siapa kamu?” tanya kakak pertama Ani.
“Aku, Eri. Pacarnya Ani.” jawabku.
“Apa, pacar kamu bilang? An, benar dia pacar kamu?”
“Er, kenapa kamu bilang?”
“Apa An, kamu nggak pernah bilang sama kakakmu kalau kamu sudahpunya pacaran?”
“Sudah…, kamu nggak pantes jadi pacarnya Ani. Kamu selalu nyakitin Ani, kamu buat dia nangis seperti ini. Kamu orangnya kasar.”
“Tapi…”
“Haaahhh…..”
“Eri, sepertinya hari ini kita memang benar-benar hari perpisahan kita. Sebaiknya kamu lupakan saja aku. Ini sudah tidak bisa diteruskan lagi”
Benar sekali, ternyata Ani nggak pernah cerita sama kakak-kakaknya kalau selama ini dia punya seorang kekasih. Hanya kakak sepupunya yang tau hubungan aku dan dia. Seseorang yang menjadi teman curhatnya dan yang senantiasa menemaninya. Angin yang tadinya hanya membawa suara desahan kini membawa reruntuhan daun yang jatuh dari pohon sebelah. Angin yang dari timur sekarang menghempaskan debu-debu jalanan menerpa wajahku yang telah basah dengan air mata. Seakan dunia ikut runtuh merasakan kehancuran hatiku yang tak terbendung. Sebelum aku pergi sejenak aku pandangi wajah manis yang telah memelukku. Air matanya sudah seperti mata air yang airnya terus mengalir. Tak sanggup aku berlama-lama disana, hanya akan menambah kesakitanku. Aku harus beranjak. Meski perih akan aku bawa rasa ini. Wajahmu, senyummu, cintamu…., juga namamu.
Ini menjadi kenangan. Kenangan sore itu, dirumahmu.

Menembus Marka

Minggu, 25 Juli 2010
Semalam tidur jam 3,  kemudian jam 4 aku terbangun tidur lagi dan pindah ketempat yang lebih nyaman. Dalam anganku aku ingin sekali bangun pagi. Rencanaku berhasil, aku terbangun jam setengah sembilan PAGI. ketika ada seorang yang sedang melamar kerja di tempat aku kerja. Aku dengan mata merah, kotoran di kelopak mata, dan aroma mulut yang khas mengetik sebuah lembar biodata kosong untuk diisi oleh calon pelamar. Dia ingin bekerja menjadi teknisi komputer. Memenuhi iklan lowongan kerja yang Mas Bos kirim ke salah satu surat kabar terkemuka. Ada lebih dari 20 orang yang telah mengirimkan Curiculum Vitae dirinya ke email kantorku. Dari 20 hanya 4 yang masuk seleksi wawancara.


Melihat pemandangan tentang pelamar kerja seperti itu aku jadi berpikir tentang diriku yang juga belum jelas masa depannya. Aku seorang sarjana, lulusan universitas terkemuka di kota Semarang, namun sekarang aku mendekam di warnet dan toko komputer. Walau hanya warnet namun dia telah membiayai aku hidup selama kuliah. Sesekali aku mencari job di luar untuk memenuhi pembayaran registrasi kuliah. Aku bersyukur sudah lulus walau belum dapat pekerjaan tetap. Pagi itu warna hitam memenuhi tubuhku dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Tidak menyangka akhirnya aku bisa memakai pakaian ini, meski aku belum pantas memakainya.

"Er, ayo sini foto-foto!" Sapa teman-temanku

"Iya!" Jawabku singkat.

"Ayo gantiyan kamu yang memfoto!"

Untuk hidungan kelulusan ya sedikit agak telat, karena dua periode sebelumnya sudah ada yang lulus, bahkan sedah menikah. Di dalam ruangan yang penuh dengan calon sarjana aku duduk ditengah kerumunan intelek muda Indonesia. Aku tak tahu apakah harus berbangga atau bersedih. Ku buka kardus kecil putih dengan tulisan selamat menikmati, aku ambil sebuah kue dan aku makan sedikit demi sedikit. Rasanya manis, sepet, asin, pahit, seperti gejala kehidupan yang warnaya beranekamacam.

Terlihat suasana gaduh ruangan auditorium sangat memekak telinga, seperti suara kerumunan lebah di sarangnya. Tak hanya itu, di depan, di atas panggung juga berdiri pejabat yang berpidato. Namun tak ada satupun pemuda intelek yang paham dengan apa yang diucapkannya, karena terganggu gaduhnya kerumunan lebah madu.

"Kepada seluruh calon wisudawan harap tenang karena acara akan segera dimulai" Ucap pejabat diatas panggung.

Seketika itu seasana sedikit menenang.

"Prosesi senat akan segera memasuki ruangan!" ucap Pembawa acara.

Barisan jubah besar berjalan beruntun rapi menyusuri celah yang sengaja diseting untuk lewat para dewan senat. Disusul acara selanjutnya dan selanjutnya. Para lebah mulai bergemuruh kembali. Sedang yang diatas panggung menghebohkan diri. Seperti menonton teater monolog aku menikmati pertunjukan yang asyik memakan cemilan yang telah kami bayar beberapa bulan yang lalu dikantor.

Di samping kanan dan kiriku yang ada hanya cewek. Tidak bisa ngobrol, hanya sesekali tanya-sapa. Dalam diamku membuat syaraf-syarafku relaksasi. Keadan nyaman. Meski tanpa hipnotis aku bisa tertidur dengan seketika. Aku telah membayangkan menjadi seorang staff pengajar yang handal. Selain itu aku juga mempunya sebuah bidang bisnis yang menjanjikan. Aku menjadi seorang yang sangat disegani.

"Er...Eri....., ayo bangun! Sudah hampir giliran fakultas kita yang maju!" Teriak temanku dengan sangat pelan.

"Apa...? Apa....?" Jawabku kaget.

"Ayo siap-siap, rapikan bajumu....!"

"Iya!"

Sepertinya yang berjalan otak bawah sadarku, tak terasa ternyata aku sudah diluar gedung. Getar handphone di sakuku ternyata membawaku sadar bahwa aku harus segera menjemput keluargaku. segera saja aku berlari menuju gerbang. Perki kemana tempat keluargaku sedang menunggu. Namun, di sana aku tidak menemukan mereka. Aku kembali ke kos. Aku ambil motor dan segera ku cari keluargaku. Hp kembali berdering mengisyaratkan tempat dimana aku harus mencari keluargaku.

Tak berapa lama akhirnya aku menemukan mereka. Tidak taha menahan kegembiraan mereka melampiaskannya denga foto-foto. Tidak peduli dengan siapa yang melihat, prosesi pemfotoan terus berlangsung. Hingga akhirnya jatuhlah sebuat sebuah pertanyaan dan tawaran yang menyandungku.

"Er..., kalau semisal kamu nggak ngajar dulu gimana?" Tanya ibuku.

"Maksud ibu?" Aku balik tanya

"Kemarin ada info lowongan kerja dari pak lurah. Katanya penghasilannya menjanjikan, perbulan minimal 12 juta!"

"Kerja apa tuh emangnya? Kerjanya dim mana?"

"Kamu coba aja dulu Er, menjanjikan kok! Kerjanya di Korea Selatan" Sahut Tante Mini.

"Hah.., Korea Selatan?"

Terkejut sekali aku mendengar berita itu. Tapi aku tidak bisa menolak. Beberapa alasan yang tidak bisa aku sangkal. Yang pertama itu adalah permintaan dari ibu, dan aku akan menuruti apapun permintaan ibu asalkan dia bahagia. Keinginannya adalah perintah bagiku. Alasan yang tidak bisa aku tepis adalah karena sudah banyaknya hutang keluarga yang menumpuk, karena beberapa kali mendapat rugi dan juga penipuan. Orang tuaku sudah susah payah membesarkanku, menguiliahkanku. Kini giliran aku yang membahagiakannya. Jika memang aku bisa berhasil setelah dari sana. Aku ingin melunasi hutang-hutang keluarga, membuka usaha dan ambil kuliah lagi untuk memenuhi misi ibuku yang memimpikan aku menjadi staff pengajar PNS.

rencana ini sungguh berat, namun apapun resikonya akan aku lakukan. Demi Ibuku

Tragedi 'kendhi' berdarah

Aahh..., tak tahu mengapa tiba-tiba kepalaku pusing, sakit sekali. Mungkin karena darah rendahku kumat atau bisa juga karena aku yang telat makan. Sekarang sudah tanggal tua, budget sudah menipis nunggu gajian. sedangkan hari ini akutelah melakukan pekerjaanku semaksimal mungkin. Mendesain hiasan ruangan, MMT, poster, iklan, menata ruangan, membersihkan, menyeting dan merapikan ruangan kerja.Sepertinya harus ada sedikit waktu untuk istirahat, sejenak menenangkan diri. Terbayang-bayang di anganku wajah-wajah keluargaku yang berada dirumah. Timbul pertanyaan, apakah mereka disana dalam keadaan baik? Apakah mereka semua sudah makan? Ahh.., aku berpikir positif saja dan berdoa semoga mereka dalam keadaan yang sangat baik.


Aku dari kecil memang sudah terbiasa bekerja. Waktu itu aku berada di bangku SMP, sepulang sekolah seperti biasa aku membantu ibu membungkusi kerupuk yang hendak dijual ke pasar. Tepat jam empat setelah selesai membungkus krupuk aku segera berangkat untuk membeli kupuk mentah guna di masak esuk hari.

"Jar, ini uangya. Beli krupuk "rangtang"  sepuluh kilo ke tempatnya Lik No!" Sahut Emak.

"Iya Mak, " Jawabku lantang tanda semangat untuk bekerja.

"Jangan lupa ni bawa karungnya!"

"Iya..!"

Sebelum aku pergi tiba-tiba ada tontonan yang kerap kali aku lihat. Cerita bersambung ini seringkali mengganggu pikiran dan jiwaku. Lebih seru dari film action dan lebih dramatis dari film sinetron. Suara-suara itu semakin keras mengeras. Suara sound radioku aja tidak sekeras itu. suara dua orang manusia yang disahut dengan suara barang-barang yang dibanting dan ditendang. Praaakkkkk......, glonthannnnn..., seperti perang kemerdekaan.

"Jan, sudah ngaku aja. Aku lebih suka km jujur. aku masih bisa memaafkan kamu jika kamu jujur!" Ucap Emak.

"Siapa juga yang ngambil? Aku nggak pernah ngambil sama sekali!"

"Sudah tertangkap basah masih tidak mengaku? Pasti km pakai untuk main kartu tadi malam kan? Kamu kalah kan?"

"Alaah..., main kartu apa? Aku cuma nonton aja kok!"

"Semalam aku nyuruh Jono, anakmu buat nguntit kamu di kiosnya Kirman. Dan katanya kamu lagi megang kartu. masih mau alasan lagi ha?

Belum selesai perang itu sudah kukayuh sepeda bututku untuk berangkat ke desa Pencil. Warna langit semakin gelap, mendhungpun semakin pekat. Aku tak mau jika nanti sampai kehujanan dijalan. Desa Pencil sekitar tiga kilo dari desaku dan di kanan kiri hanya ada sawah dan pepohonan kecil. tidak ada tempat berteduh jika turun hujan. Aku harus bersepeda melewati empat desa sedang jarak dsa satu dan desa lainnyapun berjauhan. Sepeda butut yang pernah dipakai ayahku masih kecil kini aku yang menaikinya. tak heran jika sepeda mudah rusak dan merepotkan. Sepedanya lebih tua dariku jadi aku harus menghormatinya, aku tidak memaksakan kehendakku untuk melaju cepat jika itu aku lakukan maka ngambeklah sudah sepeda itu, rantai 'losgir'.
Setelah hampir satu jam perjalanan akhirnya aku sampai ditempat Lik No. Dengan kesejukan keringat yang menyelimuti tubuhku dan aroma parfum alami yang menebarkan wangi, akudengan percaya diri masuk.

"Lik, krupuk 'rantang' sepuluh kilo y?"

"Oke, beres bos! mana karungnya?"

"ini!"

Tak berapa lama aku kembali melanjutkan perjalananku menyusuri jalan yang penuh batu berhamburan dengan debu yang menyertai di setiap hembusan angin yang membawanya. Langit sudah sangat gelap lebih gelap dari mukaku yang tiap hari selalu tertimpa sinar mentari yang membuat tubuhku jadi setengah matang. Dengan gelapnya langit yang semakin menghitam aku mulai menaikkan tempo ayuhan pedalku, aku percepat frekuensi putaran kaki. Tapi tak sampai keras sekali karena aku takut si speda tua ngambek.

Langit serasa akan jatuh. Seperti air ketuban yang mau pecah ketika sapi kakekku melahirkan. Aku sudah berusaha untuk merayu langit. Kunyanyikan lagu romantis, kubacakan puisi cinta. Namun, dia tidak mau menghiraukan aku, dia mengacuhkanku. Benarlah, seketika itu turunlah hujan lebat. Melebihi air kencing sapi, hujan itu deras sekali. Tajam air menusuk-nusuk pipiku, guyurannya membasuh mukaku turun hingga ke celanaku. Tak ada tempat untuk berteduh, tak ada orang untuk mengaduh. Hanya aku, sekarung krupuk 'rantang' dan sepeda tuaku.

"Ya Allah..., kuatkanlah diriku!"

"Berikan aku keselamatan!"

Aku hanya bisa berdoa. derasnya hujan membuat pandanganku kabur, jalan tidak terlihat. Yang terlihat hanya sekelompok air yang sedang terjun bebas mengenai kepalaku dan tanah-tanah disekitarku. Orang tidak akan pernah tahu apabila saat itu juga aku menangis, orang tidak akan bisa menebak apakah aku mengompol di celana atau tidak saking banyaknya air yang membasahi tubuhku. Hujan yang tak seperti biasanya, butiran hujan begitu besar. Tubuh seperti sedang melakukan terapi akupuntur, hanya saja jarumnya sedikit lebih menyakitkan.

Karena gelapnya pandangan ke jalan, tak terasa gerbang perbatasan desa sudah terlihat. Tak kukurangi kekuatan kayuhanku dengan konsisten aku kayus pedal dengan irama empat per empat. Dengan sedikit goyangan pinggul dan hentakan kaki akhirnya sampai jua dirumah.

"Jon, kok baru pulang? Km nggak apa-apa?" Tanya Emak.

"Aku baik-baik aja mak!" Jawabku.

" Kamu menggigil, cepat ganti baju biar hangat!"

"Iya...."


Aku sudah minum teh anget, jahe anget, ternyata kondisi tubuhku tidak kuat melawan panas yang yang menerpa tubuhku. Panas yang merambat melalui benda padat ini, telah memenuhi seluruh tubuhku. Aku mulai merindukan Kasur dan selimut. Tidak berpikir apa-apa setelah sholat maghrib dan makan
 dengan segera aku lompat ke tempat tidur dan menerbangkan selimut diatas tubuhku.

"Aduuuhh...., pusing!"

"Sakit..."

Teriakan pertama karena karena kepalaku sangat pusing, teriakan kedua pusing semakin menjadi, dan teriakan ketiga tidak aku lakukan karena ternyata aku sudah pulas tertidur. Dalam mimpi aku berada ditempat yang sangat hangat. Suasana hijau menyejukkan hati. Airnya hangat. Sentuhan lembutnya membuatku tidak ingin melepaskannya. Hangat terasa dari bibir hingga ke dasar perut yang paling dalam.

"Bang mahasih y..., Mie ayam satu make sawi sama cakar tambah es teh!"

"Limaribu Bos!"

Begitu nikmat kunikmati mie ayam di dalam mimpi tiba-tiba terdengar suara.

Jon..., jono...!"

"Hah, suara apa itu? Suara apa itu?"

"Mie ayam?"

"Heh,ni aku Emakmu. Gini aku minta tolong lagi, sana liatin bapak kamu di kiosnya Lik Kirman sedang apa?"

Meski dengan tubuhku yang demam aku lakukan keinginan ibuku. karena keinginannya adalah perintah bagiku.  Meski gelap, jam tiga pagi, aku seorang anak kecil yang masih SMP keluar sendiri. Saking gelapnya malam itu bahkan aku sampai tidak bisa melihat diriku sendiri, mungkin benar yang orang bilang kalu kulitku hitam meski aku selalu ngeyel kalau aku itu hitam. Langkah demi langkah kutapakkan kakiku kejalan, mengendap-endap seperti layaknya agen mata-mata. Atau lebuh miri seperti maling,karena ku memakai sarung.

"Wah, kartunya jelek!" Ucap salah seorang yang sedang main kartu.

"Kalau jelek itu berarti takdir!" Sahut Baqpakku.

Dengan sedikit laporan yang akurat, hangat dan terpercaya aku pulang memberikan reportase kepada Emak. Kukatanan apa adanya, tidak kurang dan tidak lebih. Kuabdikan selurih jiwa ragaku untuk ibu. Aku akan selalu membuatnya bahagia. Mendengar berita yang aku kabarkan, Emak marah sekali. padahal posisi kandungan sudah 7 bulan. dia menunggu Bapak pulang. Duduk-duduk di kursi sambil sesekali melamun. sedang aku kembali ke kamar berusaha untuk tidur lagi tapi tidak bisa. Sesaat kemudian pulanglah Bapak.

"Darimana kamu?"

"Dari tahlilan!"

"Jangan Bohong!"

"Enggak!"

"Kamu pasti abis main kartu, ngabisin uang yang kamu curi dari aku kan?"

"Aku menang kok!"

Sengit pertempuran semakin menjadi. medan pun menjadi semakin 'semrawut' berbagai senjata melayang. Prraaakkkk....., akhirnya sebuah 'kendhi' melayang di kepala bapakku yang tak mengakui kalau dialah yang kerap kali mencuri uang Emakku. Kendhi pecah, darah pun mengalir. Karena merasa bersalah Bapak pergi minggalkan rumah dengan darah yang terus mengalir dari ubun-ubunnya. Sementara Emak menangis sambil memegang perutnya yang tengah hamil tujuh bulan.

Seuntai Kata Untuk Bidadari Cinta

Sabtu, 07 Juli 2007
“Dia itu sesosok perempuan yang baik, manis tapi disisi lain dia juga sosok wanita yang anggun. Sepintas dia terlihat mempesona yang kemudian akan memikat hati. Dia gadis impian semua pangeran.” Kata-kata itu terlontar dalam benakku ketika pertama kali aku melihatmu.

Ketika waktu terus berlalu ku coba untuk mendekatimu karena hati ini mungkin sudah terkena jeratan jaring asmara yang kau lempar lebar. Semangat hidupku mulai lahir kembali seketika aku mengenal dirimu. Semakin hari aku mulai memantapkan apa yang ada di dalam perasaanku, akhirnya dengan perasaan ragu tapi pasti ku coba mengetik kata demi kata pipet hapeku yang kemudian aku  kirimkan kenomor yang aku dapatkan dari teman.
         Begitu senang dan bahagianya ketika satu pesan masuk dan ternyata itu balasan darimu. Kata-kata dalam smsmu selalu terngiang dalam pikiran. Walau sms sudah lama terhapus dari inbox hapeku aku masih ingat jelas kata-kata darimu
“Mas, kok gak bisa?apa kodenya salah? Oh ya,mas kok tahu nomorku dari mana?” kata-katamu itu mengawali langkahku. Setapak demi tapak dengan berat ku ayunkan kaki dengan harapan aku bisa mengenalmu lebih dekat. Entah ini sebuah perasaan yang muncul dari hati atau hanya sebuah obsesi aku juga tak tau pasti, yang aku tau aku ingin dekat denganmu.
Setiap kata-katamu mengantarkanku untuk melukiskan bayangmu ketika menjelang tidurku. Ketika sudah jam dua belas malam lewat masih kudengar tawamu yang renyah meski itu hanya lewat telepon. Tawamu menjadi satu hal yang bisa membuatku senang, yang lama sekali dalam hidup ini tak lagi ada satu hal pun yang bisa membuatku senang. Hari ini aku dapati. Sambil berjalan sendiri menyusuri malam yang sepi dengan telepon masih melekat di pipi sambil berbicara sendiri membuatku terlihat seperti pejabat yang berencana korupsi. Atau malah terlihat seperti orang gila yang berjalan tak tahu arah. Tentram hatiku ketika melihatmu bisa tertawa lepas dengan canda-canda dan tawa.
“Apabila hal itu bisa terjadi, pasti ada satu alasan yang logis ! Takdir…., nah makanya ada juga yang namanya Takdir Keliling…!!” celoteh itu aku lontarkan untuk menanggapi plesetan-plesetan lucu yang yang kerap kali kamu ucapkan.
Akhirnya aku gak tahu apa yang aku rasakan, entah setan mana yang merasukiku sampai seketika itu jempol jariku bergerak sendiri yang menuliskan kata-kata yang akhirnya merubah sikapmu padaku.
“Aku suka sama kamu, aku cinta kamu!”
Mungkin karena kata-kata itu semuanya jadi berubah. Apa karena aku terlalu terburu-buru atau karena hati kecilku yang berkata bahwa aku nggak pengen memilikimu. Egoisnya aku. Dan aku tidak tersadar bahwa dengan mengucapkan kata itu berarti aku harus siap kehilanganmu. Dan kata itu juga yang membuatmu merasa tidak nyaman lagi.
Apalagi semakin menyebarnya gosip tentang kita berdua yang dibilangin enggak-enggak di luar sana. Aku nggak tau kenapa mereka bisa berkata-kata seperti itu padahal kita saja jarang terlihat bareng. Kenapa mereka begitu mudahnya mengeluarkan gosip-gosip seperti itu. Apakah mereka digaji atau mendapat pahala yang besar dengan mengeluarkan gosip-gosip. Yang aku sadari, aku hidup dengan orang banyak dengan pemikiran dan pandangan yang berbeda. Jadi aku membiarkan saja dan aku tetap mengalir.
Hatiku sedikit turun ketika waktu itu kamu nyatakan kalau kamu tidak bisa menerimaku. Dan saat itu aku baru sadar satu hal yang tidak pernah terpikirkan dari awal aku memulai niatku. Memang perkataan-perkataan yang orang-orang lontarkan itu merubah sikapku, aku menjadi bukan diriku.
Gosip semakin menjadi ketika ada beberapa teman yang memergoki kita lagi pulang bareng. Dalam keadaan bis yang sesak aku masih berdiri mengayun kekanan dan kekiri karena goyangan bis yang seakan sedang berenang diatas arus ombak yang menerpa kapal. Sambil memandangi dirimu yang sibuk sendiri aku tetap melaju. Akhirnya sampai di terminal kita bisa mendapati bis yang kosong jadi kita bisa duduk.
Aku tau saat itu kamu pasti kecapekan sekali yang kulihat kamu sangat mengantuk dan kuniarkan dirimu tidur bersandar di pundakku yang keras karena hanya ada tulang yang dilapisi sedikit kulit. Sampai saatnya kamu terbangun akhirnya kita bisa ngobrol, becanda. Alangkah senangnya aku bisa melihat tertawa kembali seperti kemarin. Hingga akhirnya aku mengulangi sekali lagi apa yang aku katakan kemarin yang mungkin membuatmu ilfil sama aku.
“Aku akan menunggumu sampai kamu mau membuka hatimu.”
Seketika itu kau balas.
“sesungguhnya ku ingin dirimu tuk cairkan hatiku yang beku, tapi aku belum siap aku jadi dilema.” Kau ambil dari potongan lirik lagu Dilemanya Intan Nuraini.
Dan ku balas, lagu dari Once.
“Kau boleh acuhkan diriku, dan anggap ku tak ada. Tapi takkan merubah perasaanku Kepadamu.  Kuyakin pasti suatu saat. Semua kan terjadi, Kau kan mencintaiku. Dan tak akan pernah melepasku….”

Dua hari kemudian dengan perjalanan yang sengit karena jalan yang remuk dan terjal seperti kurang aspal dengan besarnya batu yang menggumpal akhirnya aku kembali kesini. Disini sambil mengisi sepi kuayunkan jari digitar dan walaupun jelek ketulskan lagu ni untukmu.

Bidadari Cinta

Intro : D A Bm F#m G A D 2x

*D                            A
 Matamu indah bagaikan mutiara
 C                      G
 Kau bidadari dari surga

 D                            A
 Senyummu manja sejuta pesona
 C                      G
 Kau bidadari dari surga

   A             F#m               D
**Kau buat sejuta indah jiwa
   A             F#m               D
   Kau cipta semesta sejuk jiwa
   A             F#m               A
   Kau bawa aku bahagia oo…

Reff : D        A          Bm     F#m          G                A           D
          Bidadari cintaku datanglah bersama senyum manismu
          D        A          Bm     F#m          G                A           D
          Duhai pujaan hatiku hadir dan hiasi indah hidupku
          D        A          Bm     F#m          G                A           D
          Bidadari cintaku datanglah bersama senyum manismu
          D        A          Bm     F#m          G                A           D
          Duhai pujaan hatiku hadir dan hiasi indah hidupku

Kembali ke: *
                    **
                    Reff
 Int: D A Bm F#m G A D 2x

D        A          Bm     F#m      G        A         D
Bidadari pujaanku aku jatuh cinta pada dirimu……..,

Saat itu mungkin aku belum menyadari arti cinta, ternyata aku telah memaksamu. Memaksakan perasaan cinta. Yang aku tau aku hanya ingin berjuang untuk membuka pintu hatimu. Atau mungkin di pandangan orang ini seperti serangan agresi militer belanda ke indonesia pada jaman penjajahan dulu. Sama sekali dalam benakku ini tidak ada niat untuk memakasamu, walau mungkin sebenarnya memaksa.
“Aku hanya ingin menunggu!” itu kata-kata dariku yang mungkin menjadi beban dalam hatimu. Tak heran kalau akhirnya kamu menjadi benci sama aku. Kesalahanku mungkin karena aku yang terlal mencintaimu, terlalu memujamu sehingga aku tidak mempedulikan apa yang kamu rasakan. Yang aku rasakan saat itu, aku merasa kesepian dengan keluargaku juga yang tidak mempedulikanku dengan yang tak pernah bisa kupercaya. Yang kupikirkan saat itu hanya kamu.
Aku salah, seharusnya aku sadar dan tidak mengambil persepsi seperti itu. Saat itu adik-adikku yang akhirnya datang menceramahiku, adik kelas yang peduli sama aku. Mereka memarahiku yang sedang dilanda frustasi. Saat itu aku baru tersadar bahwa didunia ini tidak seharusnya hanya kamu yang aku pikirkan. Aku masih punya keluarga dan teman-temanku yang selalu mempedulikanku.
“Mas, kalau kamu punya cewek kamu jadikan yang nomor berapa?”
Aku bingung menjawabnya. Sembari dia menjawabnya sendiri.
“Kalau aku yang ditanya seperti itu mas aku akan menjawab kalau dia itu ada di nomor empat. Yang pertama Allah, yang kedua keluarga, yang ketiga adalah sahabat dan yang keempat baru pacar ataupun orang spesial yang kita cintai.”
 Yang satu menambahkan.
“When you are in big problems don’t ever say : Allah I have a big problem ! But say : Hi problem I have a big Allah! And everything will be alright.”
Dua kata itu mungkin satu hal yang sepele yang sering diucapkan banyak orang. Tapi bagiku itu seperti pedang yang menusuk tepat di jantungku, yang menyadarkanku bahwa aku telah lalai. Semua yang aku lakukan terlampau berlebihan.
Dengan ketulusan hati dan kebaikanmu akhirnya kamu mau memaafkan kesalahanku yang mungkin sudah tidak sedikit aku menyakiti hatimu. Ketika itu hari minggu dengan sedikit terpaksa akhirnya kamu mau datang kesini. Kamu yang mengeluh sedih karena dicuekin dua sahabat kamu. Aku senantiasa mencoba untuk menenangkanmu, menghiburmu agar aku bisa kembali melihat senyum dan tawamu yang akhir-akhir ini jarang ku jumpai. Sebenarnya apa yang kamu rasain juga aku sudah merasakannya dan sepertinya aku juga mengetahui penyebabnya.
Akhirnya aku hanya bisa memberi saran agar kamu bisa lebih terbuka sama mereka. Memang kamu orangnya tipe yang tertutup, sama sepertiku. Mungkin itu yang membuat mereka merasa kurang dianggap. Mereka sahabat-sahabat kamu tapi mereka gak tau kamu. Aku hanya bisa menyarankan kamu untuk bisa lebih terbuka sama mereka.
“Kalau misalnya tidak ada yang pengen kamu ceritakan kamu bisa cerita tentang masalahmu sama aku. Ceritakan saja apa yang kamu rasakan saat ini. Semoga saja dengan ini mereka bisa kembali seperti dulu lagi.”
Yang masih membayangi angan-anganku, yang menjadi pikiranku ketika balasan sms darimu masuk.
“Mas, aku memang masih ragu. Tapi bukan meragukan cintamu padaku! Tapi aku nggak yakin dengan perjalanan cintaku yang tanpa ujung. Aku juga manusia yang butuh cinta, tapi aku nggak tau apa ini perasaan cinta atau hanya simpati.”
Walaupun sms itu sudah lama kali kamu hapus tapi kata-kata itu masih saja terngiang di telingaku seperti suara nyamuk yang mengganggu tidurku. Dari kata itu ada dua hal yang menjadi pilihanku. Yang pertama, itu menjadi semangatku karena aku merasa mempunyai harapan. Tapi kesalahanku adalah ketika aku meminta harapan padamu yang seharusnya tidak perlu aku lontarkan kata-kata yang akhirnya membebanimu. Yang kedua, harusnya aku membiarkan mengalir apa adanya hingga rasa yang ada dihati kamu itu menjadi matang. Namun pemikiran negatifku juga bicara, mungkin saja kata-kata itu keluar hanya untuk meredam niatku yang ingin memaksamu.
Hingga akhirnya malam itu kuajak kamu untuk jalan-jalan menikmati malam. Cuaca yang sangat mendukung dengan cahaya terang rembulan yang dihiasi kerlap-kerlip bintang yang seakan mengedipkan matanya kepadaku memberi tanda kalau malam iu dia mendukungku. Melewati jalan tanjakan naik-turun aku tetap melaju. Terkadang gentian kamu yang ada di depan. Belokan taman kuhentikan motor kuajak kamu untuk duduk bersandar sambil memandangi lampu kota yang kerlipnya hampir menyerupai bintang malam itu. Saat itu pertama kalinya aku merasakan bahagia selama dua tahun ini yang tak kurasakan lagi. Ingin sekali aku berdoa agar malam itu jangan cepat-cepat berlalu.
Untuk kesekian kalinya aku melakukan kesalahan lagi. Malam itu tiba-tiba saja aku mengungkit masalah yang kemarin, dan aku memaksamu. Aku benar-benar mengacaukan malam itu. Aku hancur karena kecerobohanku sendiri. Malam itu mungkin puncak kemarahanmu padaku. Pasti malam itu kadar benci dan sebel yang ada dalam diri kamu kian menebal hingga menutupi pandanganmu sampai-sampai tidak menghiraukan dan mempedulikan apa yang segala yang aku ucapkan. Aku memang seorang lelaki yang bodoh, aku sama sekali nggak bisa bersikap halus dengan seorang cewek, aku nggak bisa membaca setiap tanda-tanda yang diberikan cewek, aku nggak bisa memahami. Selama ini memang tidak ada seorangpun yang mengajariku tentang apa itu cinta, aku nggak bisa bermain cinta.
Hari ke hari kamu masih saja mendiamkanku, bahkan telpon dariku kamu kasihkan sama temen cowok kamu untuk menjawabnya. Tidak satupun sms yang aku kirim kamu balas. Entah nggak ada pulsa atau memang nggak ada nafsu untuk membalasnya. Malam hari aku telepon dan aku minta maaf untuk kesekian kalinya.
Beberapa hari kemudian suasana tampak mereda, tapi kamu masih diam. Walaupun gossip sudah mulai punah musnah tapi kamu tetap saja mendiamkanku. Karena kegelisahan hatiku yang tak terbendung, malam itu jam setengah dua belas malam aku menelponmu.  Dan seperti yang kuduga akhirnya kita kembali berantem. Aku berusaha menjelaskan apapun, tapi sayangnya kamu sudah terlanjur nggak percaya lagi padaku dan nggak mau lagi percaya. Mungkin semua memang salahku yang tak bisa memahamimu. Tapi aku bertanya-tanya kenapa setiap yang aku katakan, yang aku tawarkan pasrti kamu artikan bahwa aku memaksaku. Apa mungkin kata-kata itu muncul karena sama sekali sudah menghilang rasa simpatimu.
Kamu memintaku kita supaya menjadi temen biasa, benar-benar biasa. Bahkan aku yang meminta posisi sebelum kita ada masalah kamu nggak mau.  Aku tidak bisa berkata apa-apa. Suasana menjadi hening tanpa kata yang terucap dariku maupun darimu. Saat itu kamu juga terdiam, aku tidak tau apa yang kamu lakukan saat itu.
Aku gagal.
Aku hancur.
Aku kejam.
Aku……..
Saat itu benar-benar hancur. Akhirnya dengan berat hati kucoba untuk mengikhlaskan perasaanku. Bahwa kamu memang bukan takdirku.
Kalau itu memang yang kamu inginkan dan bisa membuatmu bahagia, aku tidak akan memaksa. Tapi tolong dengarkan sedikit kata-kata dariku ini.
Aku akan pergi, aku akan melepasmu, meninggalkanmu tapi aku tidak ingin meninggalkan luka di hatimu. Jadi tolong maafin aku. Aku yang sering membuakmu marah, aku yang pernah memaksamu, aku yang sering membebanimu, aku yang kerap kali membuatmu menangis. Maafkan aku. Untuk terakhir kalinya aku pengen bilang kalau aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu.
Aku mencintaimu tapi aku tidak tau cara mencintaimu.
Kamu telah mengajarkan banyak hal, kamu telah memberikan arti.
Selamat tinggal Bidadari Cinta……

Aku tidak akan perbah melupakan senyummu !

Sekarang kamu sudah boleh menghapus memoriku, dan apapun tentang diriku. Diriku yang telah menyakitimu. Maafkan aku.
Kalau diijinkan hidup sekali lagi ingin sekali aku bisa hidup bersamamu dan memahamimu.
Ini bukan puisi, bukan syair , bukan prosa. Ini hanyalah sedikit perasaanku yang mengalir.


NB:
Jika kita mencintai seseorang hendaknya jangan terlalu meninggikan di atas segalanya. Karena semakin kamu mencintainya, maka akan semakin sakit pula jika suatu saat tersakiti.