Tampilkan postingan dengan label Selayang Pandang. Tampilkan semua postingan

Hilangkan Kemaluanmu

Minggu, 15 Agustus 2010

Ada kejadian yang sangat menarik. Seseorang ditawarin sesuatu oleh seseorang yang lain. Jika itu terjadi sama kamu, apa yang akan kamu lakukan?
Apakah kamu akan menerima?
Ataukah kamu akan menolak?
Atau kamu malu menerima, namun sebenarnya menginginkannya?
Rasa hormat mungkin bagus, tapi rasa ‘sungkan’ yang berlebihan itu seperti ‘slilit’ pada gigi. Meski itu Cuma secuil sisa daging ayam yang kita makan, tapi itu sangan membuat kita tidak nyaman. Memang manusia Jawa dekat dengan ‘rikuh’, ‘ewuh’pakewuh’. Tapi pernyataan itu tidak harus ditelan mentah-mentah.  Rasa sungkan kenapa harus dikeluarkan jika yang menawarkan sesuatu ke kita saja ikhlas. Justru kemunafikan kita itu yang membuat kita akhirnya tidak mendapatkan sesuatu.


Kenapa harus malu, perbuatan kau tidak salah dan tidak memalukan!
Kenapa Harus Sungkan, Tuan rumah saja sangat ramah dan memperbolehkan!
Kesungkanan kamulah yang menghambat rejekimu,
Kemaluan kamulah yang menghambat kesuksesanmu...................”

Terkadang manusia mempunyai pemikiran yang aneh. Mereka sering malu jika menghadapi situasi tertentu. Padahal rasa malu itu malah akan menghambat perkembangan pola pikirnya sendiri. Malu bertanya, malu berkomunikasi dengan orang asing, malu melakukan pekerjaan yang sekiranya tidak bagus, malu akan kekurangan dirinya, malu akan orang tua dan keluarganya, malu dengan keadaannya, malu berbicara dengan lawan jenis, malu ketika diwawancara, sikap-sikap negatif itu harus dihilangkan.
Kenapa harus malu selama kita melakukan perbuatan yang benar. Kenapa harus takut jika apa yang kita lakukan tidak salah. Jangan takut untuk melakukan sesuatu yang benar. Bahkan ada satu pesan dari ibuku yang masih aku ingat dan aku pegang sampai sekarang.
“Kamu boleh melakukan apapun yang kamu suka, asalkan yang kamu lakukan itu benar.”
Bahkan ada temanku juga yang memiliki satu motto hidup yang unik, “Isin ora isi.” Tapi itulah yang akhirnya membuat dia mempunyai nila lebih. Dengan mottonya itu membuatnya jadi lebih berani.
So, kenapa harus malu?

Fenomena Nafsu

Rabu, 11 Agustus 2010

Hari ini hari pertama umat muslim menjalankan ibadah puasa ramadhan. Aku mengamati gejala-gejala yang aku lihat di selayang pandang. Ada sesuatu yang berubah, ada sesuatu yang tidak sama. Terlihat orang-orang menjadi berat untuk melakukan aktifitas, berat untuk bekerja. Hari-hari yang biasanya ramai berla-lulangnya manusia membuat keramain disepanjang jalan Sekaran, terutama gang cempaka. Gang dimana aku bersarang untuk merencanakan misi masa depan.
Apakah puasa itu sebuah alasan?
Apakah puasa itu sebuah Modus?
Apakah puasa itu sebuah hambatan untuk kita melakukan kebiasaan rutin yang layaknya kita kerjanan setiap tahun, setiap bulan dalam setiap harinya?
Memang benar. Hari-hari ketika berpuasa terasa berat daripada hari-hari biasa. Aku saja yang biasanya rutin puasa senin-kamis juga merasakannya. Rasa lapar dan dahaga begitu menyiksa. Mungkin ini sebuah sugesti, atau mungkin juga ini sebuah tradisi.
Ada satu hal yang aku suka dari puasa.
Puasa bagiku adalah sebuah tantangan.
Puasa bagiku adalah sebuah latihan.
Puasa bagiku adalah sabuah terapi militer untuk melawan nafsu.
Bagiku orang yang paling hebat di dunia adalah orang yang bisa mengendalikan hawa nafsunya. Yang aku tau nafsu itu ada tiga, nafsu makan, nafsu amarah, dan nafsu birahi. Ketiga nafsu itu seringkali membuat kehancuran di masyarakat, di jagad pewayangan, dan juga di dunia persilatan politik ekonomi saat ini.
Kalau kita amati banyak sekali banyak sekali gejala-gejala kehidupan  negatif yang disebabkan oleh ketiga hal itu. Orang yang kelaparan saja bisa menjadi masalah. Perampokan, pencurian, pencopetan, penipuan, sampai korupsi. Itu hanya disebabkan karena seonggok perut. Belum lagi nafsu amarah kita yang tak terkontrol. Hanya karena senggolan penonton konser berkelahi. Hanya karena perkataan yang belum jelas, seorang suami tegam membunuh istrinya. Hanya karena diledekin para pemuda mau-maunya saling bunuh. Belum lagi dengan nafsu birahi, nafsu biologis yang sulit dikendalikan. Banyak pemerkosaan, banyak pencabulan, perselingkuhan, perzinaan, termasuk pendokumentasian prosesi seksologis.
Sekarang coba bayangkan apabila 80% masyarakat didunia tidak bisa menghandel ketiga hal itu, akan dijadikan apa dunia ini. Untuk menangani semua itu memang tidak mudah. Apalagi dengan manusia yang sebanyak itu, pribadi masing-masing dengan pemikirannya sendiri-sendiri. Sangat sulit. Tapi apa salahnya jika kita mau berusaha. Kita menjadi ‘Avatar’ untuk diri kita masing-masing. Kita akan bisa mengendalikan nafsu amarah, makan, dan juga birahi. Kita akan menjadi orang yang super.
Orang yang tenang itu bisa lebih dewasa.
Orang yang tenang itu lebih bisa berpikir dengan jernih.
Orang yang berpikir itu bisa lebih bijaksana dalam menghadapi permasalahan.
Bagiku, puasa adalah satu cara untuk mengendalikan semua ini. Makanya dari lebih setengah tahun yang lalu sudah aku biasakan puasa senin-kamis. Aku ingin menjadi orang yang tenang. Orang yang tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Orang yang bisa berpikir dengan jernih.
Puasa itu sangat bermanfaat, selain untuk kesehatan juga untuk melatih mental. Sementara ini tantangan yang paling sulit aku kendalikan adalah nafsu amarah. Mengatur temperamen sangat sulit bagiku.
Kalu kamu yang mana?

Ayo Puasa!!!!

Sahur…… sahur…………………………..1234567x

Sedikit Demi Sedikit Lama-Lama Menjadi Duit

Sabtu, 24 Juli 2010
Ketika aku turun di minggu pagi menuju pusat kota Semarang terlihat keramaian manusia yang sedang lalu lalang, entah apa tujuan mereka. salah satu diantara mereka yang paling jelas tujuannya adalah pedagang kaki lima, sedang peringkat kedua yang menduduki adalah pengemis yang siap mengais receh para manusia yang baik hati. Dan manusia yang berlalu lalang lainnya bahkan tidak tau apa yang mereka lakukan disana.


Aku sudah mempresensi, hampir lima orang pengemis yang silih berganti menghampiriku. Tapi apa daya aku sedang apes alias lagi bokek. Selintas aku berpikir. Haruskah aku memberi uang kepada pengemis itu?

Memang jika untuk berbuat amal kita tinggal memberinya saja uang, tidak perlu menghitung-hitung berapapun jumlah pengemis yang mendatangimu. Di lain sisi ada satuhal yang membuatku bertanya, apakah mereka benar-benar membutuhkan uangku atau hanya berpura-pura membutuhkannya sementara banyak orang-orang yang lebih membutuhkanku.

Mungkin kita tidak akan berasa jika kita memberikan sedikit uang (Rp 500) tapi kita komulatifkan jika kita di posisi mereka, kita misalkan saja jika satu orang memberi 500 dan jika ada 100 orang yang memberi maka sudah mendapat Rp. 50.000,-. Padahal di keramaian itu ada lebih dari 2000 orang, kemungkinan lebih dari 40% mereka akan memberikan uang dengan ikhlas. Dan bayangkan jika diantara orang-orang yang baik hati itu memberikan Rp 1000,- atau lebih. Bayangkan lagi jika kita buka cabang pengemis di beberapa tempat di berbagai tempat keramaian, bisa saja bidang kepengemisan ini menjadi sebuah bidang usaha yang menjanjikan. Tak heran kemarin aku sempat membaca berita bahwa ada seorang pengemis yang mempunyai penghasilan rata-rata 9 juta per bulan. Dengan gagahnya dia menenteng mobil mewahnya, mempunyai dua rumah yang mewah dan satu lagi untuk orang tuanya serta tak ketinggalan dua sepeda motor keren dia pajang di etalase rumahnya. Kalau semua orang tau kebenaran bisnis ini bisa-bisa semua orang jadi pengemis.

Ini pendapatku.
Bagaimana pendapatmu???